Tugas 5- Gaya Kepemimpinan 7 tokoh Presiden RI


Ir. Soekarno adalah pemimpin kharismatik, memiliki semangat pantang menyerah, rela berkorban demi persatuan dan kesatuan, serta kemerdekaan bangsanya. Namun berdasarkan perjalanan sejarah kepemimpinannya, ciri kepemimpinan yang demikian ternyata mengarah pada figur sentral dan kultus individu.
Contoh kasus: Dapat dijadikan contoh ketika beliau  berkali-kali dipenjara oleh pemerintahan kolonial. Beliau tetap tegar bahkan semakin lantang dalam menentang penjajahan sampai memperoleh kemerdekaannya.

Presiden Soeharto merupakan gabungan dari gaya kepemimpinan Proaktif-Ekstraktif dengan Adaptif-Antisipatif, yaitu gaya kepemimpinan yang mampu menangkap peluang dan melihat tantangan sebagai sesuatu yang berdampak positif. Kemudian juga mempunyal visi yang jauh ke depan dan sadar akan perlunya langkah-langkah penyesuaian.
Contoh kasus: Kemampuan Soeharto mengendalikan militer untuk sebagian berasal dari kepiawaianya memainkan politik mutasi dan pertukaran loyalitas-imbalan secara personal diantara para perwira militer.

Presiden B.J. Habibie adalah gaya kepemimpinan Dedikatif-Fasilitatif, merupakan sendi dan Kepemimpinan Demokratik. Pada masa pemerintahan B.J. Habibie, kebebasan pers dibuka lebar-lebar. Habibie sangat terbuka dalam berbicara. Tetapi tidak pandai dalam mendengar. Akrab dalam bergaul, tetapi tidak jarang eksplosif. Sangat detailis, suka uji coba tetapi kurang tekun dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
Contoh kasusnya: pada saat itu presiden BJ Habibie dianggap kurang serius menangani kasus yang melibatkan orang-orang dekat dengan bapak BJ Habibie dan ini menjadi catatan hitam Bapak BJ Habibie dalam penanganan kasus Bank Bali

Presiden Abdurrahman Wahid adalah gaya kepemimpinan Responsif-Akomodatif, yang berusaha untuk mengagregasikan semua kepentingan yang beraneka ragam. Harapannya dapat menjadi satu kesepakatan atau keputusan yang memiliki keabsahan.
Beliau awalnya memberikan banyak harapan untuk kemajuan Indonesia. Pada dasarnya presiden yang akrab disapa Gus Dur tersebut sangat mudah kalau berbicara urusan apa saja dengan siapapun. Kecuali perbincangan tersebut menyangkut soal politik. Mulai dari berbicara persoalan kebudayaan, agama, sosial, seni dan lainnya sangat terbuka. Namun ketika menyentuh politik, Gus Dur sangat berhati-hati.
Contoh kasusnya: Gus Dur telah berhasil menghindarkan Indonesia dari konflik berkepanjangan  yang di sebabkan oleh fanatisme agama, etnis dan golongan.

Megawati yang anti kekerasan tepat sekali untuk menghadapi situasi bangsa yang sedang memanas. Megawati lebih menonjolkan kepemimpinan dalam budaya ketimuran. Ia cukup lama menimbang-nimbang suatu keputusan yang akan diambilnya. Tetapi begitu keputusan itu diambil, tidak akan berubah lagi. Gaya kepemimpinan seperti itu bukanlah suatu kelemahan.
Seperti dikatakan oleh Frans Seda: “Dia punya intuisi tajam. Sering kita berpikir, secara logika, menganalisa fakta-fakta, menyodorkan bukti-bukti, tapi tetap saja belum pas. Di saat itulah Megawati bertindak berdasarkan intuisinya, yang oleh orang-orang lain tidak terpikirkan sebelumnya”.
Contoh kasusnya: Megawati mendirikan Lembaga Pemberantas Korupsi KPK Pada Tahun 2003. Megawati Soekarnoputri melihat institusi Jaksa & Polri saat itu terlalu kotor, sehingga untuk menangkap koruptor dinilai tak mampu, namun jaksa dan Polri sulit dibubarkan, sehingga dibentuklah KPK.

Presiden SBY mempunyai tipe kepemimpinan yang lebih dari satu seperti gaya kepemimpinan karismatik, militer, juga tipe sopportif, partisifatif, instrumental dan yang lainnya. Kesemuanya ia sesuaikan dengan situasi, dan perkembangan zaman yang ada.
Contoh kasusnya: Seperti kasus memarahi kabinet depan umum, memarahi Bupati dan Walikota seluruh Indonesia yang tidur di saat SBY sedang berpidato, ini menunjukkan bahwa militeristik belum bisa lepas dari karakter SBY yang terbentuk selama 27 tahun mengabdi di militer.

Jokowi gaya pemimpinnya diantaranya adalah merakyat, mendengar, berempati, kesadaran, pengarahan, keefektifan, mengambil resiko, berjiwa melayani, mengobati atau menyembuhkan, berinovasi dan persuasi atau bujukan yang meyakinkan.
Karakter kepemimpinan yang diterapkan oleh Jokowi cenderung mengarah kepada gaya kepemimpinan yang melayani. Robert Kiefner Greenleaf (1904-1990) menyatakan bahwa mengutamakan pelayanan kepada masyarakat merupakan kerangka kerja yang teoretis sebagai motivasi kunci seorang pemimpin. Selain itu, Larry Spears menambahkan bahwa kepemimpinan yang melayani menerapkan pendekatan holistik yang ditekankan terhadap pekerjaan, kepekaan kepada kepentingan masyarakat dan pembagian kekuasaan dalam pengambilan keputusan.
Contoh kasusnya: Hal ini terlihat mengenai permasalahan kemaritiman, khususnya nelayan. Jokowi langsung blusukan ke kampung bahari tamblaklorok, Semarang, untuk mengunjungi para nelayan.

Comments

Popular posts from this blog

Tugas 6- Kelebihan dan Kekurangan Gaya Kepemimpinan Presiden RI

Tugas 4- Tipe Kemimpinan Beserta Kekurangan dan Kelemahan

Tugas 2- Membuat Perusahaan